·  Sebuah jurnal

IHSG Ijo Tapi Porto Merah

Jika Anda mengalami hal seperti judul tulisan ini, maka Anda tidak sendiri. Kita sama. Tapi jika tidak, jangan coba-coba untuk pamer di depan saya; karena saya akan merasa semakin sedih.

Btw, jika gain YTD IHSG mulai bergerak menjahui gain YTD portofolio, rasa-rasanya seperti ada yang salah. Jangan-jangan ada yang tidak beres dengan emiten-emiten di portfolio?

Ya, itu bisa saja terjadi. Bisa jadi memang emiten-emiten yang sudah kita beli sebenarnya bukanlah emiten yang bagus. Atau kita membelinya dengan harga yang terlalu mahal relatif terhadap kinerja perusahaannya. Bahkan bisa jadi emiten yang dibeli sebenarnya adalah perusahaan yang masih terus saja merugi. Dan yang paling parah jika emiten yang dibeli berasal dari bisik-bisik tetangga. Sudah begitu tetangganya orang lain dan bukan tetangga kita.

Jadi mungkin sebaiknya harus diperiksa kembali apakah ada hal-hal buruk yang kita lewatkan—ketika dulu masih dalam proses analisis sebelum membeli saham.

Tapi bagaimana jika setelah memeriksanya kembali, ternyata hasil analisisnya masih juga sama; yaitu layak untuk dibeli dan dipertahankan?

Ini baru menarik. Apalagi jika Anda—seperti saya—memiliki pengalaman ketika menjual saham yang harganya tidak ke mana-mana; atau bahkan yang harganya cenderung turun. Kemudian setelah beberapa waktu, tiba-tiba saja harganya naik berkali-kali lipat.

Berkaca dari pengalaman di atas, bisa jadi apa yang kita alami sekarang ini hanyalah sebuah proses.

Jika analisis kita benar dan perusahaannya juga sedang baik-baik saja, mungkin masih butuh waktu untuk saham-saham yang kita miliki diapresiasi positif oleh pasar. Atau jika analisis Anda cenderung ke potensi turnaround perusahaannya, tentu saja akan butuh waktu yang lebih lama lagi untuk membuktikan bahwa analisis itu benar; dan masih ditambah lagi dengan waktu tunggu hingga pasar mengapresiasi harga saham emiten tadi secara positif.

Bagaimana jika teryanyata analisisnya salah?

Semua tergantung dari materi-materi apa saja yang kita jadikan sebagai bahan analisis. Jika yang digunakan adalah materi-materi teknikal harga, katakanlah ketika area support yang telah ditentukan ternyata akhirnya sudah tertembus, maka jalan satu-satunya tentu saja cut loss.

Berbeda jika materi-materi yang digunakan untuk analisis adalah fundamental; semisal sederhananya adalah rasio-rasio keuangan. Untuk mengetahui bahwa analisis sebelumnya salah, setidaknya membutuhkan waktu satu kuartal untuk membuktikannya. Yaitu ketika laporan keuangan berikutnya keluar. Karena ketika itu tentunya rasio-rasio keuangan yang kita analisis sebelumnya baru akan berubah—kecuali tentunya jika rasio-rasio keuangan tadi merupakan rasio relatif terhadap harga sahamnya.

Lagipula aneh juga jika semisal kemarin kita membeli emiten seharga X rupiah karena memiliki ROE di atas 10%, lalu ketika seminggu kemudian harganya turun banyak, tiba-tiba saja emiten itu kita jual; padahal ROE-nya juga masih tetap sama dan laporan keuangan terbaru juga belum muncul.

Sangat tidak relevan bukan? Dan sayapun masih sering melakukan kesalahan bodoh seperti ini—curcol tersembunyi. Parahnya lagi ketika memutuskan menjual saham bukan karena perubahan rasio fundamental, melainkan karena harganya yang cenderung turun. Atau makin bodoh lagi jika alasan jualnya karena ada orang lain yang mengatakan bahwa emiten itu buruk; dan sama sekali tidak ada usaha untuk membuktikan apakah pernyataan orang tadi benar atau salah. Pokoknya langsung main jual.

Ah iya, balik lagi soal judul tulisan ini: IHSG Ijo Tapi Porto Merah. Bisa juga hal ini terjadi karena ketidak-konsistenan dalam analisis. Yaitu ketika membeli menggunakan analisis metode A, kemudian ketika memutuskan untuk menjual menggunakan analisis yang lain; membeli karena fundamental kemudian menjualnya karena alasan teknikal dan sebaliknya.

Pundemikian ada juga yang namanya analisis hybrid—setidaknya kadang itulah yang saya lakukan—yaitu analisis fundamental yang dikombinasikan dengan analisis teknikal. Keren-kan? Tapi analisis model gak jelas seperti inipun juga ada celahnya. Bahkan celahnya bisa sangat fatal akibatnya.

Misal saja membeli emiten A dengan menggunakan analisis hybrid. Ketika harganya terus saja turun dari waktu ke waktu, kita beralasan bahwa fundamentalnya masih bagus. Lalu ketika laporan keuangan terbarunya sudah muncul dan fundamentalnya sudah berubah, kita beralasan bahwa secara teknikal emiten A ini masih memiliki potensi harganya akan naik. Ujung-ujungnya saham emiten A tadi masih saja kita tahan. Hingga pada akhirnya floating loss-nya semakin dalam dan semakin susah untuk saham tadi bisa sekedar balik ke harga semula. Lalu kita blaming ke bandar—liquidity provider—saham yang tidak peka terhadap penderitaan ritel.

Heuheuheu, menyedihkan sekali bukan? Kadang kita merasa sudah cukup rasional saat menekan tombol beli atau jual di pasar saham. Tapi ketika ditarik garis yang lebih panjang dan dengan gambaran yang lebih besar, rupanya tidak demikian; tindakan kita sama sekali tidak ada rasional-rasionalnya.

Tapi ya sudahlah. Jika Anda masuk ke dalam kategori “kita”—yang masih melakukan hal-hal di atas—minimal sekarang kita tahu alasannya mengapa mengalami hal seperti judul tulisan ini. Tapi jika Anda tidak masuk ke dalam kategori “kita”, selamat; Anda luar biasa.